Sesosok Dirimu Lagi
Cerpen JKT48

“Selamat soree, gimana kabarmu?”
“....”
“Kabar aku baik-baik aja kok, oiya jangan lupa jaga kesehatan yaa!”
“....”
“Kamu tau? Aku sekarang kesepian, ga ada kamu, ga ada lagi senyummu itu..”
“....”
“Pokoknya aku tunggu kamu deh, udah dulu yaa, lusa aku kesini lagi. I Love You”
Kira-kira itulah yang hampir kulakukan tiap sore, pergi ke makam orang yang sangat aku sayangi bahkan melebihi diriku sendiri.Dia bernama Jessica Veranda Tanumihardja, atau biasa disapa Ve.
Sore itu, setelah bertemu belahan jiwaku, aku pergi ke sebuah taman. Tempat dimana aku bertemu dengan Ve dulu.Nyaman sekali disini rasanya, walau hanya sekedar duduk-duduk menikmati pasangan kekasih yang berlalu melewati.
Tanpa kusadari, seorang wanita berjalan menuju tempat dimana aku duduk.
“Boleh aku duduk disini?”, tanyanya.
“Oh boleh aja, ga ada larangannya kan? ”, balasku sambil tersenyum.
“Ah, iya juga ya”, dia tersenyum juga dengan sangat manis.
“Kamu sering kesini?kok aku ga pernah liat kamu ya?”
“Oh enggak, aku baru pertama kali kesini. Aku baru pindah dari solo”
“Pantes aja, bahasa Indonesia kamu medok banget”, ejekku sambil tertawa.
“Yaelah, ga separah itu juga kalik”, balasnya sambil manyun.
Akhirnya kami pun mengobrol dan saling cerita satu sama lain.
“Eh, udah dulu ya. Aku takut nanti dicariin mama aku.”, ucapnya.
“Oh oke, eh iya. Daritadi kita belum kenalan lho.”, balasku.
“Mau banget yaa ?.”, ledeknya kepadaku.
“Idih, ni anak geer banget sih”
“Hehehe, nama aku Shania Juniantha. Panggil aja Shanju”
“Loh kok ga Shania aja?”
“Habisnya mirip nama minyak goreng.”Ujarnya sambil cemberut.
“Gapapa dong, kan famous gitu. Di supermarket kan banyak namamu nempel jadinya.”, balasku sambil tertawa.
“Udah puas ketawanya ?”
“Eh iya-iya, gausah marah gitu, serem tau. Oh iya kamu ga nanyain namaku ?”
“Mau banget yaa ditanyain ?”
“Nggak sih, tapi ya kalo mau cari aku aja.Nama ku Andreas Reza Tarumanegara. Kamu bisa panggil aku Andre”,
“Ohh Reza”
“Andre, bukan Reza”
“Iya iya, sama aja kalik.Udah dulu ya. Byeee!”, dia tersenyum, sangat manis.
“Sikapnya ceria kaya Ve dulu, tapi lebih cerewet sih” Batinku.
“Aduh, kenapa aku lupa minta no hp sama alamatnya..., eh nggak, ini gaboleh. Ve maafin aku ya, aku hampir aja nduain kamu.”, batinku.
Esok paginya aku telah siap-siap berangkat sekolah.Di perjalanan aku terus memikirkan Shania, senyumannya, candanya, wajahnya.
Sesampainya di kelas.Bel telah berbunyi, siswa-siwi pun berhamburan masuk ke kelasnya.
“Pagi anak-anak, hari ini ibu akan memperkenalkan murid baru.Ayo perkenalkan dirimu”, ujar bu Guru.
Nampak seseorang yang tidak asing bagiku.
“Haii, namaku Shania Juniantha, kalian bisa panggil aku Shanju. Aku pindahan dari solo, mohon bantuannya yaa!”, ucap Shanju dengan ceria.
“Oke Shania, eh Shanju.Silahkan pilih tempat duduk yang kosong”, ucap guru ku.
Entah kebetulan atau tidak, saat itu cuma tempat dudukku yang kosong karena si Doni sedang sakit.Dia nampak sedikit terkejut saat melihatku.Lalu dia duduk disampingku.
“Dunia emang sempit yah, ketemu lagi sama kamu, hehehe.”, shania membuka percakapan.
“Iya, aku males sih sebenernya, tapi ya mau gimana lagi.”, jawabku sambil meledek.
“Idih, kamu pikir aku engga. Liat muka kamu 1 hari aja uda bikin males, apa lagi tiap hari.”, shania menjawab dengan jutek.
Aku hanya tertawa melihat tingkahnya, mudah sekali baginya berganti-ganti mood, lucu juga.
Bel istirahat berbunyi, aku melihat shania hanya berdiam diri sambil membaca buku.
“Shan, ke kantin yuk. Emang kamu ga laper apa ?”, tanyaku.
“Ga mau, tadi katanya males.”, balasnya dengan jutek.
“Yaelah, gitu aja marah.Ntar cepet tua baru tau rasa.”
“Yayaya, yaudah ayok ke kantin.”, ujarnya sambil menarikku.
“Aduh, ni anak pake narik tanganku segala, duh bikin deg-degan.”, batinku.
“Ih, kamu kok pucet gitu ?”, tanya Shania.
“Habis shania narik-narik tangan aku sih.”
“Loh, terus apa hubungannya? Sakit ya ?maaf-maaf,”
“Bukan gitu, kan akunya jadi seneng banget.”
“Idih, apaan coba”, jawabnya dengan malu.
Bel sekolah berbunyi, aku pergi ke perpustakaan untuk menyelesaikan tugas, setelah selesai aku mengambil motor di parkiran. Sampai di gerbang sekolah, aku melihat Shania sedang menunggu jemputan sepertinya.
“Shan, nunggu jemputan ya ?”
“Iyanih, mana lama banget”
“Yaudah, bareng aku aja yuk ? Eh alamat kamu mana ?”
“Gausah deh, ntar ngerepotin.Rumah aku Jln. Kenari nomer 24.”
“Itukan masih 1 komplek sama rumahku, udah yuk gapapa.”
“Yaudah deh, ayoo”
Diperjalanan, aku sering mencuri pandang ke Shania dari spion motor.Ahhh, cantik sekali.Namun aku teringat kepada Ve, ahh dia ga bakal tergantikan dihatiku.
Sesampainya di depan rumah Shania.
“Thanks yaa, mau mampir dulu ?”, tanya Shania.
“Enggak usah, mau langsung pulang aja.”
“Oh yaudah, makasih lho yaa.”, Shania tersenyum.
“Sama-sama”
Hari demi hari berganti, seperti perasaanku pada Shania yang makin menjadi-jadi.Seakan bunga sakura di musim semi, perasaanku tak bisa kutahan lagi.
Sore hari itu aku kembali berziarah ke makam Ve.
“Ve, Veranda... sepertinya aku udah menemukan sosokmu lagi, tapi apakah kamu sedih jika aku berpaling ?”, tanyaku pada batu nisan itu.
“Oh iya, hari ini tepat 2 tahun hari jadi kita.Kamu masih ingat waktu pertama aku nembak kamu? Waktu kita ngucapin janji setia...”, ucapku sambil menteskan air mata mengingat kenanganku bersama Ve.
“Yaudah, aku pamit dulu yaa.Jaga kesehatanmu, I Love You Ve.”
Diperjalanan pulang aku melihat Shania sedang duduk di taman.
“Hayoo, baru ngapain...”, ucapku sambil menepuk pundak Shania.
“Aaaaa, apaan sih. Aku kaget tau.”, Shania tergaket, lalu manyun.
“Daritadi ngelamun aja sih, ntar kesambet tau rasa.”
“Gamungkin, mana ada setan yang berani sama orang cantik kayak aku.”, ujarnya percaya diri.
“Yaelah, Shania cantik iya dah iyain aja daaah.”
“Ga ikhlas banget sih.”, Shania masang muka jutek.
Obrolan kami berlanjut sampe ga kerasa senja berganti malam.
“Pulang yuk Shan.”, ajakku pada Shania.
“Yuk, tapi aku lapeer.”
“Pantes aja gendut.”, ujarku lirih.
“Kamu tadi bilang apa ?”, ucapnya sambil mengepalkan tangan di depan mukaku.
“Enggak enggak, ampun ampun.”
Sesampainya di restoran, kamipun berbincang-bincang sedikit sambil menunggu pesanan.
“Emm Ndre, kamu sadar ga sih ?”, Shania membuka percakapan.
“Nggak, emang apaan ?”
“Gapapa, eh. Tipe cewe yang kamu sukai itu gimana sih ?”
“Hmmm, yang pasti cantik, ceria, perhatian.”
“Wahh itu aku banget dong,..ups”, wajah Shania pun memerah.
Aku sedikit kaget dengan ucapan Shania.Tetapi aku tidak terlalu memikirkannya.Pesanan kami telah datang, kami memakannya dengan lahap.Sampai tiba-tiba Shania berkata.
“Kamu sadar ga sih Ndre? Kalo aku suka sama kamu...”, ujar Shania sambil menatapku.
Aku kembali terkaget(lagi).
“Aku sadar Shan, tapi udah ada yang spesial di hati ku..”, aku ngga sanggup melihat matanya.
“Oh gitu, yaudah.Makasih ya makanannya, aku mau pulang dulu, takut di cariin mama”, ucap Shania sambil berlari keluar restoran.
“Maafin aku Shan, aku gabisa nyakitin Ve”, batinku.
Sampainya dirumah, aku membaca buku diary Ve.Aku tersenyum membaca tulisan-tulisan Ve.Lalu aku menemukan selembar kertas yang terselip di sampul belakang.
“Ini kertas apa ya, kayaknya baru pertama liat”, ucapku sambil mengambil kertas itu.
Dear Andre, My love
Halo Ndree, mungkin waktu kamu baca ini, aku udah ga ada di samping kamu.Tapi percayalah Ndre, kamu selalu di hati ku kok. Oh iya, maaf aku ga ngomong sama kamu, kalo aku punya penyakit kronis. Aku takut, kamu nanti ngorbanin diri buat aku.Aku sayang kamu Ndre, sekarang dan selamanya.Udah cukup selama ini kamu berkorban buat aku, jagain aku.Makasih banget ya.
Seandainya aku udah ga ada, kamu jangan bersedih yaa. Ingat kata kata mu dulu “Life Must Go On” masa kamu lupa ?Aku percaya kok, banyak perempuan yang lebih baik dari aku.Dan kalo kamu udah nemuin penggantiku, jaga dia baik-baik Ndre, jangan biarin dia pergi.Jangan sakitin hatinya.
Udah ya Ndre, inti dari semua ini yaitu. I Love You:*
Jessica Veranda Tanumihardja
“Apa yang udah ku lakuin ?Aku udah bikin Shania nangis, pastinya aku juga udah ngecewain kamu Ve”, ucapku lirih.
“Aku emang bodoh, besok aku harus kerumah Shania.”
Keesokan harinya.
“Ndre, bangun. Udah pagi.”, mama ku berteriak
“Apaansih, ma.Hari libur juga.”
“itu Shania mau pindah rumah.”
Aku terbangun, “Ah yang bener ma ?”
“Iya, tadi pagi udah ada mobil-mobil pindahan gitu.”
Ah siaal. Aku langsung berlari keluar rumah, menuju rumah Shania dengan perasaan tak menentu.
Sampainya disana, sudah ada seseorang yang menempati rumah Shania.
“Pak, Shanianya ada ?”, tanyaku.
“Waduh, udah pindah dek.”, jawabnya.
Seakan waktu seketika berhenti. Sakit sekali rasanya, kehilangan orang yang aku cintai buat kedua kalinya.
“Shaniaaa, jangan pergii!!!”, aku berteriak di depan rumah itu. Tak peduli dengan orang-orang yang melihatku.
Lalu seseorang menepuk pundakku.
“Heee, kamu ngapain ?teriak-teriak ga jelas gitu.”
“Ah, Shaniaa.”, ucapku sambil memeluknya.
“Ihh, apaan sih, kaya teletubies pake peluk-peluk segala.”, Shania tertawa.
“Eh eh, iya. Katanya kamu pindah ?bohong ih.”, ucapku sambil melepas pelukan kami.
“Iya, aku emang pindah kok.Tapi cuma pindah ke seberang. Tuh.”, jawabnya sambil menunjuk rumah.
“Yaelah, ngapain pake pindah rumah segala”
“Hehehe, saudara aku ada yang mau pindah kesini.Tapi maunya pake rumahku, yaudah deh, aku aja yang pindah.”
“Oh gituu, emmm. Aku mau ngomong sama kamu Shan, ke taman yuk ?”, ajakku.
“Yaudah ayo.”
Sampai di Taman, kami duduk di bangku yang biasa kami tempati.
“Kamu tadi mau ngomong apa ?”, ujar shania sambil menatapku.
Aku menggenggam tangannya “Shan, aku cinta sama kamu. Kamu mau jadi pacar aku ?”
Plaakkk.Shania menamparku dengan keras.“Kamu tu apa-apaan coba, kemarin malem kamu bilang udah ada yang spesial di hatimu.Sekarang ?kamu bilang suka sama aku. Kamu pikir aku cewe apaan”, ucap Shania kesal.
“Bukan maksudku gitu, aku baru sadar, kalau yang spesial di hatiku ya kamu Shan. Semalaman aku mikirin ini Shan..”, aku menatapnya dalam-dalam.
“Kamu serius Ndre?.”
“Iya, maafin aku ya kemarin?”
“Iya, gapapa kok.Maafin aku ya udah nampar kamu”, Shania memelukku.
Setelah hari itu, aku dan Shania resmi menjalin kasih.
Disuatu sore, aku dan Shania berziarah ke makam Ve.
“Ndre, ngapain kesini. Kan aku takut.”, ucap Shania manja.
“Nanti kamu tau kok Shan.”, aku hanya tersenyum.
Sampai di batu nisan bertuliskan “Jessica Veranda”
“Hai Vee, lama ya ga berkunjung kesini, ini kenalin pacarku. Shania Juniantha.”
“Oooo, jadi Ve ini toh yang pertama kali spesial di hatimu. Halo aku Shania, salam kenal Ve”, Shania tersenyum.
“Ve, sekarang aku udah nemuin penggantimu.Gimana ?ga kalah cantik kan sama kamu,” ucapku sambil tertawa.
“Oh gituu, oke oke. Ceritanya aku ga cantik nih.”, Shania cemberut.
“Hehehe, dia emang gitu orangnya Ve, dia ambekan gituu.Dikit-dikit marah.”
Jessica Veranda, kamu orang pertama yang bisa bikin aku jatuh cinta, bikin aku tau apa arti hidup. Sekarang aku sedikit bisa lepas dari bayang-bayangmu, meskipun kamu ga akan pernah hilang di hatiku.
Aku berjanji Ve, aku bakalan mencintai Shania, sama seperti cintaku ke kamu dulu, bahkan lebih. Makasih Ve dulu udah mau mewarnai kanvas yang kosong dihatiku.Sekarang aku udah nemuin sesosok dirimu lagi. Dan dia akan menggantikan kamu, jadi pewarna di kanvas yang baru..

“Selamat soree, gimana kabarmu?”
“....”
“Kabar aku baik-baik aja kok, oiya jangan lupa jaga kesehatan yaa!”
“....”
“Kamu tau? Aku sekarang kesepian, ga ada kamu, ga ada lagi senyummu itu..”
“....”
“Pokoknya aku tunggu kamu deh, udah dulu yaa, lusa aku kesini lagi. I Love You”
Kira-kira itulah yang hampir kulakukan tiap sore, pergi ke makam orang yang sangat aku sayangi bahkan melebihi diriku sendiri.Dia bernama Jessica Veranda Tanumihardja, atau biasa disapa Ve.
Sore itu, setelah bertemu belahan jiwaku, aku pergi ke sebuah taman. Tempat dimana aku bertemu dengan Ve dulu.Nyaman sekali disini rasanya, walau hanya sekedar duduk-duduk menikmati pasangan kekasih yang berlalu melewati.
Tanpa kusadari, seorang wanita berjalan menuju tempat dimana aku duduk.
“Boleh aku duduk disini?”, tanyanya.
“Oh boleh aja, ga ada larangannya kan? ”, balasku sambil tersenyum.
“Ah, iya juga ya”, dia tersenyum juga dengan sangat manis.
“Kamu sering kesini?kok aku ga pernah liat kamu ya?”
“Oh enggak, aku baru pertama kali kesini. Aku baru pindah dari solo”
“Pantes aja, bahasa Indonesia kamu medok banget”, ejekku sambil tertawa.
“Yaelah, ga separah itu juga kalik”, balasnya sambil manyun.
Akhirnya kami pun mengobrol dan saling cerita satu sama lain.
“Eh, udah dulu ya. Aku takut nanti dicariin mama aku.”, ucapnya.
“Oh oke, eh iya. Daritadi kita belum kenalan lho.”, balasku.
“Mau banget yaa ?.”, ledeknya kepadaku.
“Idih, ni anak geer banget sih”
“Hehehe, nama aku Shania Juniantha. Panggil aja Shanju”
“Loh kok ga Shania aja?”
“Habisnya mirip nama minyak goreng.”Ujarnya sambil cemberut.
“Gapapa dong, kan famous gitu. Di supermarket kan banyak namamu nempel jadinya.”, balasku sambil tertawa.
“Udah puas ketawanya ?”
“Eh iya-iya, gausah marah gitu, serem tau. Oh iya kamu ga nanyain namaku ?”
“Mau banget yaa ditanyain ?”
“Nggak sih, tapi ya kalo mau cari aku aja.Nama ku Andreas Reza Tarumanegara. Kamu bisa panggil aku Andre”,
“Ohh Reza”
“Andre, bukan Reza”
“Iya iya, sama aja kalik.Udah dulu ya. Byeee!”, dia tersenyum, sangat manis.
“Sikapnya ceria kaya Ve dulu, tapi lebih cerewet sih” Batinku.
“Aduh, kenapa aku lupa minta no hp sama alamatnya..., eh nggak, ini gaboleh. Ve maafin aku ya, aku hampir aja nduain kamu.”, batinku.
Esok paginya aku telah siap-siap berangkat sekolah.Di perjalanan aku terus memikirkan Shania, senyumannya, candanya, wajahnya.
Sesampainya di kelas.Bel telah berbunyi, siswa-siwi pun berhamburan masuk ke kelasnya.
“Pagi anak-anak, hari ini ibu akan memperkenalkan murid baru.Ayo perkenalkan dirimu”, ujar bu Guru.
Nampak seseorang yang tidak asing bagiku.
“Haii, namaku Shania Juniantha, kalian bisa panggil aku Shanju. Aku pindahan dari solo, mohon bantuannya yaa!”, ucap Shanju dengan ceria.
“Oke Shania, eh Shanju.Silahkan pilih tempat duduk yang kosong”, ucap guru ku.
Entah kebetulan atau tidak, saat itu cuma tempat dudukku yang kosong karena si Doni sedang sakit.Dia nampak sedikit terkejut saat melihatku.Lalu dia duduk disampingku.
“Dunia emang sempit yah, ketemu lagi sama kamu, hehehe.”, shania membuka percakapan.
“Iya, aku males sih sebenernya, tapi ya mau gimana lagi.”, jawabku sambil meledek.
“Idih, kamu pikir aku engga. Liat muka kamu 1 hari aja uda bikin males, apa lagi tiap hari.”, shania menjawab dengan jutek.
Aku hanya tertawa melihat tingkahnya, mudah sekali baginya berganti-ganti mood, lucu juga.
Bel istirahat berbunyi, aku melihat shania hanya berdiam diri sambil membaca buku.
“Shan, ke kantin yuk. Emang kamu ga laper apa ?”, tanyaku.
“Ga mau, tadi katanya males.”, balasnya dengan jutek.
“Yaelah, gitu aja marah.Ntar cepet tua baru tau rasa.”
“Yayaya, yaudah ayok ke kantin.”, ujarnya sambil menarikku.
“Aduh, ni anak pake narik tanganku segala, duh bikin deg-degan.”, batinku.
“Ih, kamu kok pucet gitu ?”, tanya Shania.
“Habis shania narik-narik tangan aku sih.”
“Loh, terus apa hubungannya? Sakit ya ?maaf-maaf,”
“Bukan gitu, kan akunya jadi seneng banget.”
“Idih, apaan coba”, jawabnya dengan malu.
Bel sekolah berbunyi, aku pergi ke perpustakaan untuk menyelesaikan tugas, setelah selesai aku mengambil motor di parkiran. Sampai di gerbang sekolah, aku melihat Shania sedang menunggu jemputan sepertinya.
“Shan, nunggu jemputan ya ?”
“Iyanih, mana lama banget”
“Yaudah, bareng aku aja yuk ? Eh alamat kamu mana ?”
“Gausah deh, ntar ngerepotin.Rumah aku Jln. Kenari nomer 24.”
“Itukan masih 1 komplek sama rumahku, udah yuk gapapa.”
“Yaudah deh, ayoo”
Diperjalanan, aku sering mencuri pandang ke Shania dari spion motor.Ahhh, cantik sekali.Namun aku teringat kepada Ve, ahh dia ga bakal tergantikan dihatiku.
Sesampainya di depan rumah Shania.
“Thanks yaa, mau mampir dulu ?”, tanya Shania.
“Enggak usah, mau langsung pulang aja.”
“Oh yaudah, makasih lho yaa.”, Shania tersenyum.
“Sama-sama”
Hari demi hari berganti, seperti perasaanku pada Shania yang makin menjadi-jadi.Seakan bunga sakura di musim semi, perasaanku tak bisa kutahan lagi.
Sore hari itu aku kembali berziarah ke makam Ve.
“Ve, Veranda... sepertinya aku udah menemukan sosokmu lagi, tapi apakah kamu sedih jika aku berpaling ?”, tanyaku pada batu nisan itu.
“Oh iya, hari ini tepat 2 tahun hari jadi kita.Kamu masih ingat waktu pertama aku nembak kamu? Waktu kita ngucapin janji setia...”, ucapku sambil menteskan air mata mengingat kenanganku bersama Ve.
“Yaudah, aku pamit dulu yaa.Jaga kesehatanmu, I Love You Ve.”
Diperjalanan pulang aku melihat Shania sedang duduk di taman.
“Hayoo, baru ngapain...”, ucapku sambil menepuk pundak Shania.
“Aaaaa, apaan sih. Aku kaget tau.”, Shania tergaket, lalu manyun.
“Daritadi ngelamun aja sih, ntar kesambet tau rasa.”
“Gamungkin, mana ada setan yang berani sama orang cantik kayak aku.”, ujarnya percaya diri.
“Yaelah, Shania cantik iya dah iyain aja daaah.”
“Ga ikhlas banget sih.”, Shania masang muka jutek.
Obrolan kami berlanjut sampe ga kerasa senja berganti malam.
“Pulang yuk Shan.”, ajakku pada Shania.
“Yuk, tapi aku lapeer.”
“Pantes aja gendut.”, ujarku lirih.
“Kamu tadi bilang apa ?”, ucapnya sambil mengepalkan tangan di depan mukaku.
“Enggak enggak, ampun ampun.”
Sesampainya di restoran, kamipun berbincang-bincang sedikit sambil menunggu pesanan.
“Emm Ndre, kamu sadar ga sih ?”, Shania membuka percakapan.
“Nggak, emang apaan ?”
“Gapapa, eh. Tipe cewe yang kamu sukai itu gimana sih ?”
“Hmmm, yang pasti cantik, ceria, perhatian.”
“Wahh itu aku banget dong,..ups”, wajah Shania pun memerah.
Aku sedikit kaget dengan ucapan Shania.Tetapi aku tidak terlalu memikirkannya.Pesanan kami telah datang, kami memakannya dengan lahap.Sampai tiba-tiba Shania berkata.
“Kamu sadar ga sih Ndre? Kalo aku suka sama kamu...”, ujar Shania sambil menatapku.
Aku kembali terkaget(lagi).
“Aku sadar Shan, tapi udah ada yang spesial di hati ku..”, aku ngga sanggup melihat matanya.
“Oh gitu, yaudah.Makasih ya makanannya, aku mau pulang dulu, takut di cariin mama”, ucap Shania sambil berlari keluar restoran.
“Maafin aku Shan, aku gabisa nyakitin Ve”, batinku.
Sampainya dirumah, aku membaca buku diary Ve.Aku tersenyum membaca tulisan-tulisan Ve.Lalu aku menemukan selembar kertas yang terselip di sampul belakang.
“Ini kertas apa ya, kayaknya baru pertama liat”, ucapku sambil mengambil kertas itu.
Dear Andre, My love
Halo Ndree, mungkin waktu kamu baca ini, aku udah ga ada di samping kamu.Tapi percayalah Ndre, kamu selalu di hati ku kok. Oh iya, maaf aku ga ngomong sama kamu, kalo aku punya penyakit kronis. Aku takut, kamu nanti ngorbanin diri buat aku.Aku sayang kamu Ndre, sekarang dan selamanya.Udah cukup selama ini kamu berkorban buat aku, jagain aku.Makasih banget ya.
Seandainya aku udah ga ada, kamu jangan bersedih yaa. Ingat kata kata mu dulu “Life Must Go On” masa kamu lupa ?Aku percaya kok, banyak perempuan yang lebih baik dari aku.Dan kalo kamu udah nemuin penggantiku, jaga dia baik-baik Ndre, jangan biarin dia pergi.Jangan sakitin hatinya.
Udah ya Ndre, inti dari semua ini yaitu. I Love You:*
Jessica Veranda Tanumihardja
“Apa yang udah ku lakuin ?Aku udah bikin Shania nangis, pastinya aku juga udah ngecewain kamu Ve”, ucapku lirih.
“Aku emang bodoh, besok aku harus kerumah Shania.”
Keesokan harinya.
“Ndre, bangun. Udah pagi.”, mama ku berteriak
“Apaansih, ma.Hari libur juga.”
“itu Shania mau pindah rumah.”
Aku terbangun, “Ah yang bener ma ?”
“Iya, tadi pagi udah ada mobil-mobil pindahan gitu.”
Ah siaal. Aku langsung berlari keluar rumah, menuju rumah Shania dengan perasaan tak menentu.
Sampainya disana, sudah ada seseorang yang menempati rumah Shania.
“Pak, Shanianya ada ?”, tanyaku.
“Waduh, udah pindah dek.”, jawabnya.
Seakan waktu seketika berhenti. Sakit sekali rasanya, kehilangan orang yang aku cintai buat kedua kalinya.
“Shaniaaa, jangan pergii!!!”, aku berteriak di depan rumah itu. Tak peduli dengan orang-orang yang melihatku.
Lalu seseorang menepuk pundakku.
“Heee, kamu ngapain ?teriak-teriak ga jelas gitu.”
“Ah, Shaniaa.”, ucapku sambil memeluknya.
“Ihh, apaan sih, kaya teletubies pake peluk-peluk segala.”, Shania tertawa.
“Eh eh, iya. Katanya kamu pindah ?bohong ih.”, ucapku sambil melepas pelukan kami.
“Iya, aku emang pindah kok.Tapi cuma pindah ke seberang. Tuh.”, jawabnya sambil menunjuk rumah.
“Yaelah, ngapain pake pindah rumah segala”
“Hehehe, saudara aku ada yang mau pindah kesini.Tapi maunya pake rumahku, yaudah deh, aku aja yang pindah.”
“Oh gituu, emmm. Aku mau ngomong sama kamu Shan, ke taman yuk ?”, ajakku.
“Yaudah ayo.”
Sampai di Taman, kami duduk di bangku yang biasa kami tempati.
“Kamu tadi mau ngomong apa ?”, ujar shania sambil menatapku.
Aku menggenggam tangannya “Shan, aku cinta sama kamu. Kamu mau jadi pacar aku ?”
Plaakkk.Shania menamparku dengan keras.“Kamu tu apa-apaan coba, kemarin malem kamu bilang udah ada yang spesial di hatimu.Sekarang ?kamu bilang suka sama aku. Kamu pikir aku cewe apaan”, ucap Shania kesal.
“Bukan maksudku gitu, aku baru sadar, kalau yang spesial di hatiku ya kamu Shan. Semalaman aku mikirin ini Shan..”, aku menatapnya dalam-dalam.
“Kamu serius Ndre?.”
“Iya, maafin aku ya kemarin?”
“Iya, gapapa kok.Maafin aku ya udah nampar kamu”, Shania memelukku.
Setelah hari itu, aku dan Shania resmi menjalin kasih.
Disuatu sore, aku dan Shania berziarah ke makam Ve.
“Ndre, ngapain kesini. Kan aku takut.”, ucap Shania manja.
“Nanti kamu tau kok Shan.”, aku hanya tersenyum.
Sampai di batu nisan bertuliskan “Jessica Veranda”
“Hai Vee, lama ya ga berkunjung kesini, ini kenalin pacarku. Shania Juniantha.”
“Oooo, jadi Ve ini toh yang pertama kali spesial di hatimu. Halo aku Shania, salam kenal Ve”, Shania tersenyum.
“Ve, sekarang aku udah nemuin penggantimu.Gimana ?ga kalah cantik kan sama kamu,” ucapku sambil tertawa.
“Oh gituu, oke oke. Ceritanya aku ga cantik nih.”, Shania cemberut.
“Hehehe, dia emang gitu orangnya Ve, dia ambekan gituu.Dikit-dikit marah.”
Jessica Veranda, kamu orang pertama yang bisa bikin aku jatuh cinta, bikin aku tau apa arti hidup. Sekarang aku sedikit bisa lepas dari bayang-bayangmu, meskipun kamu ga akan pernah hilang di hatiku.
Aku berjanji Ve, aku bakalan mencintai Shania, sama seperti cintaku ke kamu dulu, bahkan lebih. Makasih Ve dulu udah mau mewarnai kanvas yang kosong dihatiku.Sekarang aku udah nemuin sesosok dirimu lagi. Dan dia akan menggantikan kamu, jadi pewarna di kanvas yang baru..
Komentar
Posting Komentar